Efeb
gagal jadi Dokter
Nama saya Elvira Febriyanti, nama panggilan saya Efeb,
lahir di Bandung 4 Februari 1997. Saya bersekolah di SDN margahayu tahun 2009
dn saya melanjutkan ke SMPN 34 Bandung yang berasa di jalan Waas kemudian lulus
pada tahun 2012 dan saya mempunyai cita - cita untuk melanjutkan sekolah ke
SMAN 20 Bandung yang berada di Jalan Citarum No. 23 Bandung.
Saya anak ke tiga dari tiga bersaudara, kakak pertama
saya laki – laki bernama Angga Aditia Sudirman yang sekarang sudah bekerja di
Bank Indonesia yang pernah menjadi lulusan Akutansi di suatu Universitas Swasta
di Bandung. Kakak kedua saya perempuan yang bernama Yunita Ariyanti yang sekarang bekerja di Bank
BCA yang pernah menjadi lulusan Akutansi juga di suatu Universitas Negeri yang
ada di Bandung.
Ayah saya juga bekerja menjadi Wiraswasta yang beraliran
akutansi di PT YUGA, begitu pula dengan mamah saya. Hanya saya lah satu –
satunya yang bercita – cita dengan aliran yang berbeda dari keluarga saya,
tetapi saya memiliki pengalaman bekerja sebagai pekerja honorer akuntan di
perusahaan yang ayah saya naungi itu.
Saya
bekerja sebagai pegawai honorer itu selama liburan Ujian Nasional yang lamanya
sekitar 3 bulan. Dari situlah saya belajar susahnya menjadi pegawai yang
bekerja dari pagi hingga sore, yang bersusah payah memasuki data yang ada
tetapi harus sesuai dengan data yang ada, dan lelah karena harus begadang jika
pekerjaan belum selesai. Dan akhirnya saya memutuskan untuk berhenti.
Saya
bercita - cita untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi, dan disini saya akan
berbagi pengalaman susah dan senangnya berjuang untuk menembus Universitas yang
saya inginkan. Pada saat Ujian Nasional telah usai, saya mencari - cari
informasi tentang Universitas yang saya inginkan. Salah satunya Universitas
Swasta yang mempunyai Program Studi Kedokteran dan Universitas Negeri lainnya
untuk masuk melalui jalur SNMPTN.
Salah
satu Universitas yang saya tuju itu adalah Universitas Pendidikan Indonesia
dengan mengambil jurusan Psikologi non akademik karena saya tidak bercita - cita
sebagai guru dan tekad saya yang bercita - cita selain menjadi Dokter tapi bisa
menjadi Psikolog. Pendaftaran SNMPTN pun dimulai, saya mendaftar SNMPTN ke Universitas
Psikologi Indonesia Departemen Psikologi. Itulah pilihan pertama saya bahkan
hanya satu - satunya yang saya pilih di SNMPTN itu.
Bersamaan
dengan menunggu hasil pengumuman SNMPTN, saya mengikuti Ujian Seleksi Mandiri
di Universitas Swasta yang telah menjadi acuan untuk saya masuk menjadi salah
satu Mahasiswa Kedokteran Di Universitas itu. Berawal dari mengikuti USM 1 pada
bulan Maret 2015 dengan pilihan pertama Kedokteran Umum, 2 minggu telah berlalu
dan penguman USM pun muncul, tetapi saya tidak diterima.
Saya
terus berjuang, berusaha, dan berdoa karena saya yakin Allah SWT akan
memberikan pencerahan dan jalan keluar dari yang telah saya lakukan selama ini.
Usaha saya tidak berhenti di tengah jalan, setelah Ujian Nasional bulan April
2015 saya bertekad untuk mengikuti USM 2 pada bulan Juni 2015. USM ke 2 di
Universitas tersebut bersamaan dengan pengumuman hasil SNMPTN.
Dan
saya tidak berniat memeriksa hasil SNMPTN, tetapi pada hari kedua setelah
pengumuman SNMPTN saya diberitahu teman saya bahwa saya diterima SNMPTN
Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia. Dari situlah saya memberitahu Ibu
saya untuk mencari jalan keluar yang dimana saya masih berharap masuk ke
Kedokteran Universitas tersebut. Kemudian saya juga berkumpul bersama keluarga
untuk merundingkan masalah ini.
Setelah
merundingkan masalah ini dengan berbagai faktor jika saya masuk ke Kedokteran
lalu saya berdoa dan memohon diberi petunjuk kepada Allah SWT untuk mendapatkan
yang terbaik. Akhirnya, inilah yang mungkin menurut Allah yang terbaik, saya
daftar ulang Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia dan kumpul bersama
dengan sekumpulan anak - anak yang diterima dengan jalur SNMPTN.
Awalnya
saya merasakan hal yang mungkin sama dengan anak - anak lain yang baru menjadi
Mahasiswa di Universitas Pendidikan Indonesia. Merasakan takut akan tugas - tugas
kuliah, takut tidak bisa bersosialisasi dan lain - lain, tapi itu menjadi
tantangan bagi saya untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang
yang baru yang saya belum tahu sifat dari masing-masing orang. Saya beranggapan
semua orang sama tidak saya beda - bedakan.
Dari
minggu ke minggu saya dapat merasakan dan menilai sifat-sifat perorang terutama
teman - teman saya dikelas, saya harus siap dan mencari cara agar saya tidak
salah menyikapi sifat mereka perorangan. Setelah perkuliahan dimulai dengan
adaptasi bersama tugas - tugas kuliah yang selalu numpuk dan dosen - dosen, diadakan
acara kaderisasi yaitu MABIM ( Masa Bimbingan ) .
Ada
beberapa peraturan Mabim yang patut peserta atau Mahasiswa Baru ditaati dan
dilakukan, salah satunya adalah baju kemeja berwarna ungu dan memakai name tag
dan pin yang berlambangkan trisula. Trisula itu berlambangkan Psikologi dan
warna ungu itu diartikan sebagai Jiwa, jadi lambang Trisula diname tag dan pin itu
merupakan salah satu budaya Mahasiswa Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia
untuk menandakan bahwa itu adalah identitas kita menjadi siswa Psikologi Universitas
Pendidikan Indonesia.
Kegiatan
Mabim itu mempunyai sisi positif untuk melatih kita menjadi pemimpin yang baik,
juga untuk melatih kedisiplinan bagi setiap peserta. Mabim diadakan setiap satu
minggu sekali yang berada di sekitaran Universitas Pendidikan Indonesia. Dari
awalnya para Maba banyak yang membuat kesalahan tapi sampai saat ini yang
berbuat masalah itu berkurang. Itulah salah satunya sisi positif dari Mabim.
Selama
masa Mabim dan sampai saat ini saya juga belajar untuk bersosialisasi dengan
kakak tingkat Psikologi. Ditambah lagi saya mentoring dibimbing oleh kakak
tingkat Psikologi, juga diberi beberapa pengalaman yang telah mereka jalani
selama ini. Dari situlah saya mengerti dan paham akan adanya sosialisasi dengan
sesama orang, bukan hanya orang - orang yang seangkatan atau seumuran dengan
kita. Tetapi kita juga butuh masukan dari orang yang lebih dewasa dan mempunyai
banyak pengalaman.
Saya
bertekad dan berjuang untuk bisa menjadi Mahasiswa yang bisa mengikuti mata
kuliah Psikologi di Universitas Pendidikan Indonesia dengan beberapa bagian
ilmu yang saya punya dari SD, SMP, maupun SMA. Hingga sekarang saya akan
menunjukan kepada kedua orang tua saya bahwa saya bisa membanggakan mereka dengan
program studi yang tidak sesuai keinginan saya awalnya.
Saya
mempunyai tujuan masuk Psikologi untuk menjadi Psikolog yang baik. Bila saya
diberi kesempatan untuk melanjutkan di jurusan Psikologi Universitas Pendidikan
Indonesia ini saya akan mengambil konsentrasi PIO ( Psikologi Industri dan
Organisasi ). Psikologi Industri dan Organisasi ini adalah salah satu
konsentrasi yang ada di Universitas Pendidikan Indonesia yang bertujuan
membangun dan membantu Mahasiswa untuk bekerja di Dunia Industri.
Tujuan
saya memilih PIO itu salah satunya untuk bisa bekerja sebagai HRD yang bisa
menyeleksi orang – orang yang melamar ke suatu perusahaan. Dan juga dapat
memutuskan layak atau tidaknya karyawan tersebut bekerja di suatu bagian
bidang. Dan masih banyak lainnya yang menjadi tugas HRD. Maka dari itulah saya
memilih HRD
Karena
cita – cita awal saya untuk menjadi Dokter maka dari itu saya mau melanjutkan
dan mencoba untuk mendaftar kedokteran lagi tahun depan di salah satu Universitas
Negeri di Jakarta. Jika saya mendapatkan izin dari kedua orang tua saya tanpa
ada paksaan dan faktor – faktor yang menyebabkan saya gagal lagi menjadi
dokter.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar