Minggu, 11 Oktober 2015


Efeb gagal jadi Dokter



            Nama saya Elvira Febriyanti, nama panggilan saya Efeb, lahir di Bandung 4 Februari 1997. Saya bersekolah di SDN margahayu tahun 2009 dn saya melanjutkan ke SMPN 34 Bandung yang berasa di jalan Waas kemudian lulus pada tahun 2012 dan saya mempunyai cita - cita untuk melanjutkan sekolah ke SMAN 20 Bandung yang berada di Jalan Citarum No. 23 Bandung.
            Saya anak ke tiga dari tiga bersaudara, kakak pertama saya laki – laki bernama Angga Aditia Sudirman yang sekarang sudah bekerja di Bank Indonesia yang pernah menjadi lulusan Akutansi di suatu Universitas Swasta di Bandung. Kakak kedua saya perempuan yang bernama  Yunita Ariyanti yang sekarang bekerja di Bank BCA yang pernah menjadi lulusan Akutansi juga di suatu Universitas Negeri yang ada di Bandung.
            Ayah saya juga bekerja menjadi Wiraswasta yang beraliran akutansi di PT YUGA, begitu pula dengan mamah saya. Hanya saya lah satu – satunya yang bercita – cita dengan aliran yang berbeda dari keluarga saya, tetapi saya memiliki pengalaman bekerja sebagai pekerja honorer akuntan di perusahaan yang ayah saya naungi itu.
Saya bekerja sebagai pegawai honorer itu selama liburan Ujian Nasional yang lamanya sekitar 3 bulan. Dari situlah saya belajar susahnya menjadi pegawai yang bekerja dari pagi hingga sore, yang bersusah payah memasuki data yang ada tetapi harus sesuai dengan data yang ada, dan lelah karena harus begadang jika pekerjaan belum selesai. Dan akhirnya saya memutuskan untuk berhenti.
Saya bercita - cita untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi, dan disini saya akan berbagi pengalaman susah dan senangnya berjuang untuk menembus Universitas yang saya inginkan. Pada saat Ujian Nasional telah usai, saya mencari - cari informasi tentang Universitas yang saya inginkan. Salah satunya Universitas Swasta yang mempunyai Program Studi Kedokteran dan Universitas Negeri lainnya untuk masuk melalui jalur SNMPTN.
Salah satu Universitas yang saya tuju itu adalah Universitas Pendidikan Indonesia dengan mengambil jurusan Psikologi non akademik karena saya tidak bercita - cita sebagai guru dan tekad saya yang bercita - cita selain menjadi Dokter tapi bisa menjadi Psikolog. Pendaftaran SNMPTN pun dimulai, saya mendaftar SNMPTN ke Universitas Psikologi Indonesia Departemen Psikologi. Itulah pilihan pertama saya bahkan hanya satu - satunya yang saya pilih di SNMPTN itu.
Bersamaan dengan menunggu hasil pengumuman SNMPTN, saya mengikuti Ujian Seleksi Mandiri di Universitas Swasta yang telah menjadi acuan untuk saya masuk menjadi salah satu Mahasiswa Kedokteran Di Universitas itu. Berawal dari mengikuti USM 1 pada bulan Maret 2015 dengan pilihan pertama Kedokteran Umum, 2 minggu telah berlalu dan penguman USM pun muncul, tetapi saya tidak diterima.
Saya terus berjuang, berusaha, dan berdoa karena saya yakin Allah SWT akan memberikan pencerahan dan jalan keluar dari yang telah saya lakukan selama ini. Usaha saya tidak berhenti di tengah jalan, setelah Ujian Nasional bulan April 2015 saya bertekad untuk mengikuti USM 2 pada bulan Juni 2015. USM ke 2 di Universitas tersebut bersamaan dengan pengumuman hasil SNMPTN.
Dan saya tidak berniat memeriksa hasil SNMPTN, tetapi pada hari kedua setelah pengumuman SNMPTN saya diberitahu teman saya bahwa saya diterima SNMPTN Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia. Dari situlah saya memberitahu Ibu saya untuk mencari jalan keluar yang dimana saya masih berharap masuk ke Kedokteran Universitas tersebut. Kemudian saya juga berkumpul bersama keluarga untuk merundingkan masalah ini.
Setelah merundingkan masalah ini dengan berbagai faktor jika saya masuk ke Kedokteran lalu saya berdoa dan memohon diberi petunjuk kepada Allah SWT untuk mendapatkan yang terbaik. Akhirnya, inilah yang mungkin menurut Allah yang terbaik, saya daftar ulang Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia dan kumpul bersama dengan sekumpulan anak - anak yang diterima dengan jalur SNMPTN.
Awalnya saya merasakan hal yang mungkin sama dengan anak - anak lain yang baru menjadi Mahasiswa di Universitas Pendidikan Indonesia. Merasakan takut akan tugas - tugas kuliah, takut tidak bisa bersosialisasi dan lain - lain, tapi itu menjadi tantangan bagi saya untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang yang baru yang saya belum tahu sifat dari masing-masing orang. Saya beranggapan semua orang sama tidak saya beda - bedakan.
Dari minggu ke minggu saya dapat merasakan dan menilai sifat-sifat perorang terutama teman - teman saya dikelas, saya harus siap dan mencari cara agar saya tidak salah menyikapi sifat mereka perorangan. Setelah perkuliahan dimulai dengan adaptasi bersama tugas - tugas kuliah yang selalu numpuk dan dosen - dosen, diadakan acara kaderisasi yaitu MABIM ( Masa Bimbingan ) .
Ada beberapa peraturan Mabim yang patut peserta atau Mahasiswa Baru ditaati dan dilakukan, salah satunya adalah baju kemeja berwarna ungu dan memakai name tag dan pin yang berlambangkan trisula. Trisula itu berlambangkan Psikologi dan warna ungu itu diartikan sebagai Jiwa, jadi lambang Trisula diname tag dan pin itu merupakan salah satu budaya Mahasiswa Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia untuk menandakan bahwa itu adalah identitas kita menjadi siswa Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia.
Kegiatan Mabim itu mempunyai sisi positif untuk melatih kita menjadi pemimpin yang baik, juga untuk melatih kedisiplinan bagi setiap peserta. Mabim diadakan setiap satu minggu sekali yang berada di sekitaran Universitas Pendidikan Indonesia. Dari awalnya para Maba banyak yang membuat kesalahan tapi sampai saat ini yang berbuat masalah itu berkurang. Itulah salah satunya sisi positif dari Mabim.
Selama masa Mabim dan sampai saat ini saya juga belajar untuk bersosialisasi dengan kakak tingkat Psikologi. Ditambah lagi saya mentoring dibimbing oleh kakak tingkat Psikologi, juga diberi beberapa pengalaman yang telah mereka jalani selama ini. Dari situlah saya mengerti dan paham akan adanya sosialisasi dengan sesama orang, bukan hanya orang - orang yang seangkatan atau seumuran dengan kita. Tetapi kita juga butuh masukan dari orang yang lebih dewasa dan mempunyai banyak pengalaman.
Saya bertekad dan berjuang untuk bisa menjadi Mahasiswa yang bisa mengikuti mata kuliah Psikologi di Universitas Pendidikan Indonesia dengan beberapa bagian ilmu yang saya punya dari SD, SMP, maupun SMA. Hingga sekarang saya akan menunjukan kepada kedua orang tua saya bahwa saya bisa membanggakan mereka dengan program studi yang tidak sesuai keinginan saya awalnya.
Saya mempunyai tujuan masuk Psikologi untuk menjadi Psikolog yang baik. Bila saya diberi kesempatan untuk melanjutkan di jurusan Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia ini saya akan mengambil konsentrasi PIO ( Psikologi Industri dan Organisasi ). Psikologi Industri dan Organisasi ini adalah salah satu konsentrasi yang ada di Universitas Pendidikan Indonesia yang bertujuan membangun dan membantu Mahasiswa untuk bekerja di Dunia Industri.
Tujuan saya memilih PIO itu salah satunya untuk bisa bekerja sebagai HRD yang bisa menyeleksi orang – orang yang melamar ke suatu perusahaan. Dan juga dapat memutuskan layak atau tidaknya karyawan tersebut bekerja di suatu bagian bidang. Dan masih banyak lainnya yang menjadi tugas HRD. Maka dari itulah saya memilih HRD

Karena cita – cita awal saya untuk menjadi Dokter maka dari itu saya mau melanjutkan dan mencoba untuk mendaftar kedokteran lagi tahun depan di salah satu Universitas Negeri di Jakarta. Jika saya mendapatkan izin dari kedua orang tua saya tanpa ada paksaan dan faktor – faktor yang menyebabkan saya gagal lagi menjadi dokter.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar